Kamis, 02 Mei 2013

Peranan Pendidikan Karakter

Posted by Unknown | 09.01 Categories:


Maraknya perilaku korupsi yang terjadi di Indonesia, praktik politik yang tidak bermoral, bisnis yang culas, pengakuan hukum yang tidak adil, perilaku intoleran, perkelahian masal, kenakalan remaja dan sebagainya, merupakan wacana krisis moral yang sedang melanda Negara Indonesia. Sehingga pendidikan karakter belakangan ini secara umum diposisikan sebagai “jalan keluar”sebagai terbentuknya bangsa yang unggul. Tidak hanya dari segi ilmu dan teknologi, tetapi juga moral dan budipekerti.
Pendidikan karakter bisa menjadi salah satu jalan keluar dengan catatan didahului sebuah perencanaan yang matang. Jika pendidikan karakter belum menjadi kenyataan, seluruh proses pendidikan yang sekarang berjalan seharusnya menjadi modal pembentukan manusia Indonesia yang beradab. Pendidikan karakter mutlak diperlukan demi kalansungan hidup Bangsa Indonesia.
Bagi Indonesia sekarang ini, pendidikan karakter juga berarti melakukan usaha sungguh-sungguh untuk membangkitkan dan menguatkan kesadaran serta keyakinan semua orang Indonesia bahwa tidak akan ada masa depan yang lebih baik tanpa membangun dan menguatkan karakter rakyat Indonesia. Dengan kata lain, sangat diperlukan perwujudan suatu kejujuran, meningkatkan disiplin diri,  kegigihan,  semangat belajar yang tinggi, mengembangkan rasa tanggung jawab, memupuk persatuan di tengah-tengah kebinekaan, semangat berkontribusi bagi kemajuan bersama, serta rasa percaya diri serta optimisme untuk mencapai masa depan Indonesia yang lebih baik.
Berdasarkan UU No 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional pada Pasal 3, yang menyebutkan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk karakter serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Pendidikan nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. 
Secara garis besar tujuan pendidikan nasional adalah selain mencerdaskan peserta, juga agar terciptanya karakter peserta yang beriman, mandiri, dan berahklak mulia. Bila demikian, sudah semestinya kita lebih memprioritaskan pendidikan karakter dari hanya mementingkan nilai belaka.
Pendidikan karakter tidak saja merupakan tuntutan undang-undang dan peraturan pemerintah, tetapi juga oleh agama. Setiap Agama mengajarkan karakter atau akhlak pada pemeluknya. Dalam Islam, akhlak merupakan salah satu dari tiga kerangka dasar ajarannya yang memiliki kedudukan yang sangat penting, di samping dua kerangka dasar lainnya, yaitu aqidah dan syariah. Nabi Muhammad Saw  dalam salah satu sabdanya mengisyaratkan bahwa kehadirannya di muka bumi ini membawa misi pokok untuk menyempurnakan akhlak manusia yang mulia. Akhlak karimah merupakan sistem perilaku yang diwajibkan dalam agama Islam melalui nash al-Quran dan Hadis.
Pendidikan karakter  pada dasarnya  dapat diintegrasikan dalam pembelajaran  pada setiap mata pelajaran. Materi pembelajaran yang berkaitan dengan norma atau nilai-nilai pada setiap mata pelajaran perlu dikembangkan, dieksplisitkan, dikaitkan dengan konteks kehidupan sehari-hari. Pendidik juga diharapkan mampu mempraktikkan kebaikan. Sehingga peserta didik dapat mengetahui dan secara otomatis berperilaku baik. Dengan demikian, pembelajaran nilai-nilai karakter tidak hanya pada tataran kognitif, tetapi menyentuh pada internalisasi, dan pengamalan nyata dalam kehidupan peserta didik sehari-hari di masyarakat.

Pengertian Pendidikan Karakter
Pengertian Karakter
Pengertian karakter menurut Pusat Bahasa Depdiknas adalah “bawaan, hati, jiwa, kepribadian, budi pekerti, perilaku, personalitas, sifat, tabiat, temperamen, watak”. Adapun berkarakter adalah berkepribadian, berperilaku, bersifat, bertabiat, dan berwatak”.
Karakter merupakan nilai- nilai perilaku manusia yan berhubungan dengan Tuhan, diri sendiri, sesama manusia dan lingkungan.
 Menurut Tadkiroatun Musfiroh (UNY, 2008), karakter mengacu kepada serangkaian sikap (attitudes), perilaku (behaviors), motivasi (motivations), dan keterampilan (skills). Karakter berasal dari bahasa Yunani yang berarti “to mark” atau menandai dan memfokuskan bagaimana mengaplikasikan nilai kebaikan dalam bentuk tindakan atau tingkah laku, sehingga orang yang tidak jujur, kejam, rakus dan perilaku jelek lainnya dikatakan orang berkarakter jelek. Sebaliknya, orang yang perilakunya sesuai dengan kaidah moral disebut dengan berkarakter mulia.
Individu memiliki kesadaran untuk berbuat yang terbaik atau unggul, dan individu juga mampu bertindak sesuai potensi dan kesadarannya tersebut. Individu berkarakter mulia berarti individu memiliki pengetahuan tentang potensi dirinya, yang ditandai dengan nilai-nilai seperti  reflektif, percaya diri, rasional,  logis, kritis, analitis, kreatif dan inovatif, mandiri, hidup sehat, bertanggung jawab, cinta ilmu, sabar, berhati-hati, rela berkorban, pemberani, dapat dipercaya, jujur, menepati janji, adil, rendah hati,  dan nilai-nilai lainnya.
Pengertian Pendidikan Karakter
Pendidikan karakter  merupakan penanaman nilai – nilai karakter kepada warga sekolah, penanaman moral yang baik sehingga mampu membentuk akhlak yang mulia pada setiap warga sekolah khususnya, masyarakat pada umumnya.
Menurut Elkind & Sweet  (2004), pendidikan karakter dimaknai sebagai berikut:  “character education is the deliberate effort to help people understand, care about, and act upon core ethical values. When we think about the kind of character we want for our  children, it is clear that we want them to be able to judge what is right, care deeply about what is right, and then do what they believe to be right, even in the face of pressure from without and temptation from within”.
Lebih lanjut dijelaskan bahwa pendidikan karakter adalah segala sesuatu yang dilakukan guru, yang mampu mempengaruhi karakter peserta didik. Guru membantu membentuk watak peserta didik. Hal ini mencakup keteladanan bagaimana perilaku guru, cara guru berbicara atau menyampaikan materi, bagaimana guru bertoleransi, dan berbagai hal terkait lainnya. Sesuai dengan aliran pendidikan empirisme yang menyatakan bahwa perkembangan pribadi anak ditentukan oleh faktor linkungan. Menurut pandangan empirisme, pendidik memegang peranan yang sangat penting sebab pendidik dapat menyediakan lingkungan pendidikan kepada peserta didik dan akan diterima sebagai pengalaman.
Menurut T. Ramli (2003), pendidikan karakter memiliki esensi dan makna yang sama dengan pendidikan moral dan pendidikan akhlak. bertujan membentuk pribadi anak, supaya menjadi manusia yang baik, warga masyarakat, dan warga negara yang baik. Oleh karena itu, hakikat dari pendidikan karakter dalam konteks pendidikan di Indonesia adalah pedidikan nilai, yakni pendidikan nilai-nilai luhur yang bersumber dari budaya bangsa Indonesia sendiri, dalam rangka membina kepribadian generasi muda.
Tujuan Pendidikan Karakter
Tujuan Pendidikan

Tujuan pendidikan, menurut Foerster, adalah untuk pembentukan karakter yang terwujud dalam kesatuan esensial antara subyek dengan perilaku dan sikap hidup yang dimilikinya. Karakter merupakan sesuatu yang mengualifikasi seorang pribadi, yang memberikan kesatuan dan kekuatan atas keputusan diambilnya. Karena itu, karakter menjadi semacam identitas yang mengatasi pengalaman kontingen yang selalu berubah. Dari kematangan karakter inilah kualitas seorang pribadi diukur.

Pendidikan informal terutama dalam lingkungan keluraga saja belum cukup memberikan kontribusi terhadap pembentukan karakter peserta didik. Oleh karena itu waktu belajar di sekolah perlu dioptimalkan agar peningkatan mutu hasil belajar, terutama pambentukan karakter peserta didika dapat terwujud. Sesuai dengan tujuan pendidikan. 

Tujuan Pendidikan Karakter

 Pendidikan karakter bertujuan untuk meningkatkan mutu penyelenggaraan dan hasil pendidikan di sekolah yang mengarah pada pencapaian pembentukan karakter  atau  akhlak mulia peserta didik secara utuh, terpadu, dan seimbang, sesuai standar kompetensi lulusan. Dengan menggunakan kata hati sebagai penerangan yang menyertai tentang apa yang akan, yang sedang, dan yang telah diperbuatnya sebagai manusia. Melalui pendidikan karakter diharapkan peserta didik  mampu secara mandiri meningkatkan dan menggunakan pengetahuannya, mengkaji dan menginternalisasi serta mempersonalisasi nilai-nilai karakter dan akhlak mulia sehingga terwujud dalam perilaku sehari-hari.    
             Pendidikan  karakter pada tingkatan institusi mengarah pada pembentukan budaya sekolah, yaitu nilai-nilai yang melandasi perilaku, tradisi, kebiasaan keseharian, dan simbol-simbol  yang dipraktikkan oleh semua warga sekolah, dan masyarakat sekitar sekolah.  Budaya sekolah merupakan ciri khas, karakter atau watak, dan citra sekolah tersebut di mata masyarakat luas.

Sasaran Pendidikan Karakter
Berdasar fenomena yang terjadi belakangan ini, seperti menigkatnya kenakalan remaja, perkelahian masal, sejalan dengan itu banyak pihak menuntut peningkatan intensitas dan kualitas pelaksanaan pendidikan karakter.
 Sasaran pendidikan karakter adalah seluruh sekolah di Indonesia baik negeri maupun swasta. Seluruh warga sekolah.,  Para peserta didik, guru, karyawan, serata pimpinan sekolah menjadi sasaran program ini.
Pendidikan karakter tidak hanya di perlukan dalam lingkup sekolah saja tetapi di rumah dan lingkungan sosial. Tidak hanya di berikan pada anak usia dini melainkan usia dewasa juga harus mendapatkan pendidikan karakter.
Melalui pendidikan karakter diharapkan seluruh rakyat Indonesia memiliki ketakwaan terhadap Tuhan yang Maha Esa, berakhlak mulia, serta memiliki kepribadian sesuai dengan nilai-nilai dan budaya Indonesia.
Tahapan Perkembangan Perilaku

Tahap I (0 – 10 tahun)
Perilaku lahiriyah, metode pengarahannya adalah pengarahan, pembiasaan, keteladanan, penguatan(imbalan) dan pelemahan (hukuman), indoktrinasi. Karena anak pada tahap ini cenderung meniru apa yang di lihat, apa yang di arahkan oleh orang tua atau dari lingkungan sekitar.

Tahap II(11-15 tahun)
Perilaku kesadaran, metode pengembangannya adalah penamaan nilai melalui dialog, pembimbingan dan pelibatan. Pada tahap ini anak usia 11-15 tahun sudah mampu diajak berdialog mengenai sikap yang baik dan buruk.



Tahap III(15 tahun ke atas)
Control internal perilakku, metode pengembangannya adalah perumusan visi dan misi hidup, dan penguatan tanggung jawab kepada Allah. Anak usia 15 tahun keatas sudah mulai mampu membedakan yang baik dan buruk. Mampu berpikir secara rasional. Sehingga control dari dalam dirinya yang mampu menjadi kendali.

Pembentukan Kepribadian
Pengembangan kepribadian dalam suatu system pendidikan adalah keterkaitan antara komponen-komponen karakter yang dapat dilakukan secara bertahap dan saling berhubungan.
Kepribadian terbentuk setelah melalui beberapa proses. Berawal dari adanya nilai yang diserap seseorang dari berbagai sumber, mungkin agama, ideology, dan sebagainya. Pola pikir seseorang secara keseluruhan terbentuk melalui nilai –nilai budaya selanjutnya visi turun ke wilayah hati dan membentuk suasana jiwa yang secara keseluruhan keluar dalam bentuk mentalitas. Mentalitas mengalir memasuki wilayah fisik dan melahirkan tindakan yang secara keseluruhan disebut sikap. Sikap yang dominan dalam diri seseorang secara kumulatif mencitrai dirinya adalah kepribadian.

Prinsip – prinsip pendidikan karakter

Pendidikan karakter harus didasarkan pada prinsip-prinsip sebagai berikut:
1.  Mempromosikan nilai-nilai dasar etika sebagai basis karakter
2. Mengidentifikasi karakter secara komprehensif supaya mencakup pemikiran, perasaan, dan perilaku
3.  Menggunakan pendekatan yang tajam, proaktif dan efektif untuk membangun karakter
4.  Menciptakan komunitas sekolah yang memiliki kepedulian
5.  Memberi kesempatan kpeada peserta didik untuk menunjukkan perilaku yang baik
6.  Memiliki cakupan terhadap kurikulum yang bermakna dan menantang yang menghargai semua peserta didik, membangun karakter mereka, dan membantu mereka untuk sukses
7.  Mengusahakan tumbuhnya motivasi diri pada para  peserta didik
8. Memfungsikan seluruh staf sekolah sebagai komunitas moral yang berbagi tanggung jawab untuk pendidikan karakter dan setia pada nilai dasar yang sama
9.  Adanya pembagian kepemimpinan moral dan dukungan luas dalam membangun inisiatif pendidikan karakter
10. Memfungsikan keluarga dan anggota masyarakat sebagai mitra dalam usaha membangun karakter
11.  Mengevaluasi karakter sekolah, fungsi staf sekolah sebagai guru-guru karakter, dan manifestasi karakter posisitf dalam kehidupan peserta didik.
Penyelengaraan Pendidikan Karakter

Penyelenggaraan pendidikan karakter di sekolah harus sesuai dengan nilai- nilai karakter dasar. Dalam pndidikan karakter di sekolah keterlibatan pemangku pendidikan sangat penting semua koponen termasuk pendidikan itu sendiri. Meskipun lingkungan sekolah sangat berperan dalam pendidikan karakter, peran orang tua, masyarakt, serta lingkungan tidak kalah penting. sebab keteladanan, pengaplikasian karakter mulia merupakan salah satu model pendidikan karakter. Selain itu pendidikan karakter harus dilakukan oleh individu itu sendiri. Jika masing- masing individu bertekd untuk melatih diri secara konsisten, maka akan terbentuk pribadi yang berkarakter sebagaimana yang dicita-citakan bersama.

            Indikator keberhasilan program pendidikan karakter dapat diketahui terutama melalui pencapaian butir- butir Standar Kompetensi Lulusan oleh peserta didik yang meliputi sebagai berikut :
 1.  Mengamalkan ajaran agama yang dianut sesuai dengan tahap perkembangan   remaja; 
2.  Memahami kekurangan dan kelebihan diri sendiri;  
3.  Menunjukkan sikap percaya diri; 
4.  Mematuhi aturan-aturan sosial yang berlaku dalam lingkungan yang lebih luas; 
5.  Menghargai keberagaman agama, budaya, suku, ras, dan golongan sosial ekonomi dalam lingkup nasional; 
6.  Mencari dan menerapkan informasi dari lingkungan sekitar dan sumber-sumber lain secara logis, kritis, dan kreatif; 
7.  Menunjukkan kemampuan berpikir logis, kritis, kreatif, dan inovatif; 
8. Menunjukkan kemampuan belajar secara mandiri sesuai dengan potensi yang dimilikinya;
9. Menunjukkan kemampuan menganalisis dan memecahkan masalah dalam   kehidupan sehari-hari;
10.  Mendeskripsikan gejala alam dan sosial;  
11.  Memanfaatkan lingkungan secara bertanggung jawab; 
12.  Menerapkan nilai-nilai kebersamaan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara demi terwujudnya persatuan dalam negara kesatuan Republik Indonesia; 
13.  Menghargai karya seni dan budaya nasional; 
14.  Menghargai tugas pekerjaan dan memiliki kemampuan untuk berkarya; 
15.  Menerapkan hidup  bersih, sehat, bugar, aman, dan memanfaatkan waktu luang dengan baik; 
16.  Berkomunikasi dan berinteraksi secara efektif dan santun;  
17. Memahami hak dan kewajiban diri dan orang lain dalam pergaulan di masyarakat; Menghargai adanya perbedaan pendapat; 
18.  Menunjukkan kegemaran membaca dan menulis naskah pendek sederhana; 
19.  Menunjukkan keterampilan menyimak, berbicara, membaca, dan menulis dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris sederhana; 
20.  Menguasai pengetahuan yang diperlukan untuk mengikuti pendidikan menengah; 
21.  Memiliki jiwa kewirausahaan. 

0 komentar:

Posting Komentar

Silahkan jika anda yang ingin komentar, namun tolong gunakan bahasa yang sopan. Atau di kosongkan bila anda tidak ingin menampilkan pesan komentar.

  • RSS
  • Delicious
  • Digg
  • Facebook
  • Twitter
  • Linkedin
  • Youtube
codecademy